TENAGA MEDIS MERUPAKAN PAHLAWAN COVID -19

Admin
By -
0





Oleh : Mulyadin, A.Md. Kep.
Penulis Merupakan Sekretaris Pada Puskesmas Dompu Kota.
Dan Juga Merupakan Ketua Dewan Komisariat Perawat (DKP) PPNI Kabupaten Dompu_Nusa Tenggara Barat.


Virus Corona menjadi topik terhangat yang di bicarakan oleh seluruh manusia di muka bumi, Karena sejak januari 2020 virus ini mendadak menjadi terror mengerikan bagi masyarakat dunia, terutama setelah merenggut nyawa ratusan orang dalam waktu yang begitu singkat.



Virus yang pertama kali di temukan di pasar hewan dan makanan di sebuah kota di cina yaitu kota Wuhan. Kota yang dengan dengan jumlah penduduk 91.000 jiwa,  dikenal sebagai kota yang membentuk sejarah panjang cina sampai pada cina yang modern seperti saat ini, dan bahkan di juluki sebagai Chicago dari cina. Bukan tanpa sebab, kota tersebut menjadi tempat kekuatan perdagangan eropa, memiliki pabrik/perusahan internasianal seperti perusahaan baja, textile, produksi mobil dan lain –lainnya.



Proses penyebaran virus di kota wuhan yang begitu cepat, dalam waktu dua pekan mampu merenggut nyawa ratusan orang dan penyebarannya mencapai 114 negara, sehingga pada tanggal 11 maret 2020 Organisasi kesehatan dunia ( WHO ) menetapkan bahwa Virus corona  atau covid -19 dinyatakan sebagai pandemic global. bukan tanpa sebab, penyebaranya yang sudah  tidak bisa di kendalikan, dan dinyatakan sebagai darurat kesehatan untuk menjadi perhatian seluruh dunia.



Presiden Jokowi  sudah menetapkan wabah covid -19 ( corona ) sebagai jenis penyakit yang menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat, yang tertuang dalam keputusan presiden no 11 tahun 2020 tentang penetapan kedaruratan masyarakat corona virus disease 2019 ( covid -19 ). Terbitnya keputusan ini dengan mempertimbangkan wabah covid -19 yang bersifat luar biasa dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang meningkat secara signifikan dan tersebar di 30 propinsi di Indonesia. Ada 2 poin utama yang di tetapkan, pertama ; wabah covid -19 ini sebagai kedaruratan kesehatan masyaratkat, kedua ; wajib dilakukan upaya penanggulangan.



Di negara cina yang notabene sebagai negara asal mula covid -19 tenaga medis di beri penghormatan sebagai pahlawan kemanusiaan oleh semua masyarakat, pasien ataupun pemerintah, di berbagai negara maju seperti amerika tenaga medis di sambut oleh sorakan tepuk tangan serentak oleh masyarakat ketika petugas akan pergi kerja. dukungan dan motivasi yang sangat luar biasa di berikan kepada pahlawan mereka.



Di Indonesia, Puluhan tenaga medis gugur dalam usaha penanggulangan covid -19 ini. pahlawan – pahlawan kemanusiaan ini sudah memberikan hidup dan matinya untuk bangsa dan negara, meninggalkan keluarga di rumah, menahan haus dan lapar berjam –jam, mencoba kuat meski secara fisik sudah tidak mampu, bermandikan keringat meski asupan kebutuhan cairan tubuh di batasi,  hingga pahlawan kita tidak berdaya setelah dinyatakan positif corona.



Disaat Pemerintah menggaungkan penanganan corona secara massif dan terstruktur, serta mendorong masyarakat untuk bekerja bersama –sama membantu pemerintah melalui social distancing, dan penanganan corona sampai ke tingkat desa/kelurahan, kemudian menentukan tempat pelayanan kesehatan dengan status Rumah sakit isolasi dan rumah sakit rujukan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Miris….!!! Ditengah wabah tersebut,di beritakan oleh media kahaba.net pada tanggal 4 april 2020, Sebanyak  31 pegawai RS di salah satu Rumah sakit di kota bima harus di pecat secara sepihak oleh Rumah sakit, mudahan keputusan tersebut dapat di pertimbangkan kembali dan dapat di terima serta menguntungkan kedua belah pihak.



Berbeda lagi apa yang di rasakan oleh tenaga sukarela di salah satu RS di kabupaten bima, pahlawan –pahlawan sukarela ini justru mogok kerja lantaran jasa pelayanan selama 8 bulan tidak di terima, diberitakan oleh talkingnews.asia tanggal 1 april 2020, Sekda menyarankan kepada direktur RS tersebut untuk di rumahkan dulu, dan di buatkan SOP terkait insertif. Meski  dua hari setelahnya, diberitakan oleh kabaroposisi.com sekda membantah di rumahkan, nasib mereka harus di perhatikan. Ditengah Pujian dan doa dari masyarakat Indonesia atas perjuangan para pahlawan medis, ada saja hal – hal miris yang masih di temui. Mudah – mudahan masalah tersebut diatas sudah ada jalan penyelesaiannya yang menguntungkan kedua belah pihak.



Tidak ada yang menyangka bahwa dengan Munculnya covid _ 19 atau yang biasa di sebut corona ini, semua aktivitas manusia di batasi, mulai dari dilarang bersalaman, keluar rumah, berkumpul dan bahkan dilarang menjalankan ibadah di tempat –tempat suci berbagai agama, hingga kegiatan umrah yang dilaksanakan oleh muslim seluruh dunia di tunda. Disisi lain bagi  tenaga kesehatan seluruh dunia menjadi masa –masa yang berat karena harus menjadi garda terdepan dalam penanganan covid -19 ini. sebagai garda terdepan tenaga medis harus melaknakan tugas dengan baik, memastikan pasien –pasien yang ditangani dalam keadaan baik pula, namun harus juga memikirkan keselamatan nyawa mereka sendiri.



Suatu keharusan pemerintah untuk menjaga pahlawan medis tersebut untuk menyediakan alat pelindung diri yang memenuhi standar, mengingat penyebaran covid -19 ini sangat cepat dan bisa saja merenggut nyawa tenaga medis dalam waktu yang singkat. Tenaga Medislah yang harus berusaha mati-matian di garda terdepan.



Mereka rela rentan terpapar virus corona Covid-19, yang penting para pasien bisa diselamatkan. Tak jarang, para tenaga medis harus mengorbankan kehidupan pribadi dan keluarga demi mengurus para pasien yang positif corona.



Tulisan ini Semata_mata bukan untuk menyudutkan siapapun atau pihak manapun, tulisan ini hanya untuk memberikan gambaran betapa luar bisa dan pentingnya keberadaan tenaga kesehatan dalam penanggulangan wabah corona ini secara Nasional.



 Sosial distancing yang dilaksanakan oleh pemerintah, mari kita dukung bersama –sama dengan Stay at home, belajar di rumah,  menghindari perkumpulan yang melibatkan orang banyak, isolasi mandiri sesuai protocol isolasi yang di keluarkan oleh pemerintah baik bagi yang memiliki riwayat perjalanan luar daerah, ODP, atau PDP, dan semua masyarakat wajib menggunakan masker serta mengajak semua lapisan masyarakat untuk mendukung upaya pemerintah melalui Pembatasan social berskala besar dan kekarantinaan kesehatan ( PSSB ).

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)